Translate

SELAYANG PANDANG KKI

​






Senin, 26 Agustus 2013

Perjalanan Seru Melihat Burung Cantik Penghuni Kepulauan Masalembu


Rif’at Syauqi 
Universitas Islam As-Syafiiyah


Sobat….. aku ingin berbagi secuil cerita, tentang pengalaman perjalananku menuju Kepuluan Masalembu. Perjalanan ini dalam rangka penelitian tugas akhirku untuk mendapatkan gelar sarjana dari sebuah Universitas swasta di Jakarta. Masalembu……….. tak terbayang dalam benakku rupa pulau itu, yang aku tahu hanyalah cerita-cerita tentang keganasan gelombang dan kejadian irasional lainnya yang sedikit membuat jantungku berdeguk lebih kencang. Aku sangat beruntung karena tugas akhirku mendapat dukungan sepenuhnya dari sebuah lembaga konservasi yang sudah 5 tahun terakhir bekerja secara konsisten disana, yaitu Konservasi Kakatua Indonesia (KKI).   
Secara admistratif Kepulauan Masalembu termasuk dalam Kabupaten Sumenep Jawa Timur. Kepulauan ini terletak ± 155 km sebalah utara pulau Madura yang terdiri dari empat pulau yaitu Pulau Masalembu, Pulau Masakambing, Pulau Kramian dan Pulau Kambing, dari keempat pulau hanya Pulau Kambing yang tidak berpenghuni. Pengambilan data burung yang akan dilakukan hanya di Pulau Masalembu dan Pulau Masakambing.
Kepulauan Masalembu merupakan pulau yang masih sangat sedikit dieksplorasi keanekaragaman hayatinya. Hal itu yang mendorong aku meluncur ke pulau antah brantah itu untuk pengambilan data keanekaragaman jenis burung disana. Penelitian ini pun memulai ceritaku disana, sejak 5 Maret 2013, atau bertepatan dengan tanggal 22 rabiul akhir 1434 H, pengalamanku pun menjadi bertambah. Petualanganku dimulai dengan perjalanan menuju bandara Soekarno Hatta dan terbang menggunakan  transportasi udara menuju Surabaya. Sesampainya di Surabaya perjalanan menuju Kepulauan Masalembu akan dilanjutkan dengan menggunakan transportasi laut menggunakan kapal perintis di Pelabuhan Tanjung Perak. Sayangnya perjalanan menuju Masalembu harus tertunda karena kapal perintis KM Sukaria tidak diijinkan berangkat karena alasan cuaca buruk. Dengan hati gundah, setelah 4 hari menunggu tanpa kepastian di Surabaya, akhirnya pada hari jumat tanggal 8 Maret kapal diperbolehkan berangkat juga dengan menempuh waktu selama 16 jam.
Sabtu 9 Maret, tepat pukul 10.00 WIB, kapal yang aku tumpangi akhirnya merapat di pulau terbesar dan sekaligus menjadi pusat kota Kecamatan Masalembu. Begitu menapakkan kaki di darmaga, aku sudah ditunggu oleh kak Dudi dan kak Dwi dari Konservasi Kakatua Indonesia (KKI), dan perjalanan pun belum berakhir karena harus melanjutkan kembali menuju pulau Masakambing dengan perahu yang biasa disebut ’taksi’ (transportasi antar pulau) selama 2 jam.

Lelahnya perjalanan rasanya terbayar sudah setelah menjejakkan kaki dan melihat keindahan laut, angin pantai dan keramahan masyarakat pulau Masalembu dan Masakambing. Hari pertama berada di pulau Masakambing aku berkeliling melihat dan merasakan suasana pulau yang hangat, sepi dan tenang dari hiruk pikuk kendaraan, gedung bertingkat dan polusi yang menyesakan dada, dan mataku seakan kembali di refresh dengan hamparan birunya laut dan hijaunya kebun. Pulau Masakambing merupakan bagian dari Kepulauan Masalembu yang luasnya ± 500 ha dan didiami oleh 1400 jiwa (2008). Lahan pulau ini hampir 80% telah dikonversi menjadi lahan pertanian yang didominasi perkebunan kelapa dan dengan luas yang kecil terdapat beberapa perkebunan jagung, jambu mente, cengkeh dan perkebunan jati. Tepian pulau masih dibentengi oleh hutan mangrove yang masih cukup tebal namun tak dipungkiri mengalami kebotakan di sana sini akibat tambak yang kini tak terurus.
Dalam pengambilan data burung di Pulau Masakambing dan Masalembu, aku menggunakan metode Transect dengan 5 jalur pengamatan disetiap pulaunya. pengamatan dilakukan pagi hari pukul 05.00 - 09.00 dan sore pukul 15.30 - 17.30. Kurang lebih satu bulan pengamatan dilakukan di Pulau Masakambing dan kemudian pengambilan data burung dilanjutkan di Pulau Masalembu, sebelum kembali ke Jakarta.
Sangat kontras sekali dengan keadaan di Masakambing, dengan luasan pulau Masalembu yang lebih besar sekitar 2000 ha dan jumlah penduduk yang cukup padat yaitu 20.000 jiwa (2008). Pulau yang menjadi pusat kota ini, dijejali dengan rumah-rumah pemukiman yang padat. Hampir seluruh wilayah pulau Masalembu telah terkonversi menjadi lahan pertanian dan pemukiman. Hutan mangrove yang tersisa hanya berada disebelah utara pulau dengan kondisi yang rusak. Disisi tenggara pulau ini terdapat pantai yang cantik berhias pasir putih, masyarakat disana menyebutnya ’Pantai Masnah’. Pantai yang cukup landai dengan pasir putih yang menggoda, ditambah lagi rindangnya cemara laut dan pohon akasia, menambah sejuk dan indah pantai ini. Tidak jauh dari pantai Masnah terdapat bekas landasan pesawat terbang yang kondisinya sudah menjadi padang rumput dan lahan pertanian.
Hasil pengamatanku dikedua pulau Masakambing dan Masalembu dijumpai 60 jenis burung dari 17 suku, dimana 46 jenis dijumpai di Pulau Masakambing dan 39 jenis di Pulau Masalembu. Kemudian tercatat 14 jenis burung hanya dijumpai di Pulau Masalembu dan 20 jenis hanya ada di Masakambing dan 26 jenis lagi jumpai dikedua pulau (list lengkap jenis-jenis burungnya dapat dilihat diakhir tulisan ini).
Tercatat tiga jenis burung yang paling melimpah keberadaannya dikedua pulau yaitu Kacamata laut (Zosterops chloris), Cekakak sungai (Halcyon chloris) dan Burung madu sriganti (Cinnyris jugularis). Ketiga jenis ini dapat dijumpai diseluruh wilayah pulau, bahkan jenis kacamata laut pernah tercatat masuk kedalam rumah. Pengalaman yang paling menyenangkan adalah pengamatan bisa sangat dekat dengan ketiga jenis burung tersebut. Kekagumanku makin bertambah, karena ditempat lain sangat sulit mendekati ataupun menjumpai jenis burung kacamata dan cekakak, tapi disini sangat berlimpah dan dapat  mengamati dengan mata telanjang, disemua tempat dan punya banyak kesempatan untuk memotret jenis tersebut dengan begitu dekat dan berbagai moment cantik.
Jenis yang menjadi primadona di Kepulauan Masalembu yaitu Kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea abbotti) merupakan anak jenis yang paling langka dan terancam punah dengan status Critically Endangered (IUCN) dan Appendiks I (CITES). Selama pengamatan menggunakan metode Transect dijumpai 17-24 individu hidup anggun dan cantik meramaikan pulau ini. Mengamati kakatua terbang bebas dengan indahnya sambil berteriak-teriak dengan suara yang keras merupakan pengalaman yang sangat berharga untukku. Disamping itu perilaku mengagumkan kakatua lainya yaitu pada saat sedang makan buah kelapa, dengan mudah kakatua mengupas dan melubangi kulit buah kelapa yang keras hanya kurang dari 5 menit saja dan langsung melahap daging buahnya. Kakatua sering terlihat bergerombol terutama pada pagi hari bertengger dalam satu pohon dengan jumlah 4 sampai 9 ekor. Saat ini ancaman keberadaan Kakatua di Pulau Masakambing secara langsung sudah sangat berkurang bahkan nyaris hilang, kini hanya ancaman-ancaman yang bersifat tidak langsung saja seperti penebangan pohon, pengambilan kayu bakau yang menjadikan habitat dan pohon penting bagi kakatua menjadi berkurang.
Banyaknya jenis burung yang dijumpai di pulau Masakambing dan Masalembu menandakan bahwa kedua pulau ini merupakan pulau unik dan penting bagi burung. Walaupun saat ini kondisi habitatnya masih mendukung dalam hal menyediakan sumberdaya yang dibutuhkan oleh burung-burung yang terdapat dikedua pulau tersebut, namun peningkatan jumlah penduduk, dan penurunan lahan hijau akan berbanding lurus dengan penurunan jenis burung dan kualitas ekosistem secara keseluruhan. Dijumpainya beberapa jenis pendatang (seperti burung migran) juga menunjukkan bahwa di pulau Masakambing dan pulau Masalembu merupakan pulau transit yang cukup nyaman aman dan mendukung segala kebutuhan hidupnya, terutama untuk mencari makan, beraktivitas dan beristirahat. Oleh sebab itu, kondisi habitat dan jenis-jenis burung yang ada di Kepulauan Masalembu perlu dijaga dan terus dilestarikan.
Pengalaman berharga ini tentu tidak akan aku lupakan. Ucapan terima kasih pun tak luput aku persembahkan untuk KKI dan seluruh masyarakat Masakambing dan Masalembu, khususnya kepada Bapak Wahyu selaku Camat, Kepala Desa Masakambing – Bapak Ahmad Abbas, keluarga alm. Pak Puraden, Pak Taufik Ilahi dan keluarga Pak Haji Hidjas di Masalembu yang telah menerimaku dengan tangan terbuka. Terima kasih juga buat Dewi, yang terus memberikan semangat dan dukungan untuk selesainya penelitianku. Yups, rasanya dua bulan berada di Kepulauan ini tak cukup buatku, sehingga suatu saat aku ingin kembali kesana.
Jenis-jenis Burung di Pulau Masakambing dan Masalembu
Family
Jenis
Nama Indonesia
Ml
Mk
Fregatidae
1. Fregata ariel
Cikalang Kecil
√
√
Ardeidae
2. Bubulcus ibis
Kuntul Kerbau
√


3. Egretta sacra
Kuntul Karang
√

4. Egretta garzetta
Kuntul Kecil

√
5. Butorides striata
Kokokan Laut
√
√
6. Ardeola speciosa
Blekok Sawah
√
√
7. Ixobrychus sinensis
Bambangan Kuning
√
√
8. Ixobrychus cinnamomeus
Bambangan Merah

√
Anatidae
9. Anas gibberifrons
Itik Benjut
√
√
Accipitridae
10. Pandion haliaetus
Elang Tiram

√
11. Pernis ptilorhynchus
Sikep Madu Asia

√
12. Elanus caeruleus
Elang Tikus
√
√
13.Milvus migrans
Elang Paria
√
√
14. Haliaeetus leucogaster
Elang Laut Perut Putih
√
√
15. Butastur liventer
ElangSayap Cokelat

√
16. Hieraaetus pennatus
Elang Setiwel

√
17. Hieraaetus kienerii
Elang Perut Karat

√
Falconidae
18. Falco moluccensis
Alap Alap Sapi
√
√
19. Falco tinnunculus
Alap Alap Erasia 
√

20. Falco severus
Alap Alap Macan
√
√
Rallidae
21. Amaurornis phoenicurus
Kareo Padi
√
√
Charadriidae
22. Pluvialis fulva
Cerek Kernyut
√
√
23. Charadrius alexandrines
Cerek Tilil
√

24. Charadrius veredus
Cerek Asia

√
Scolopacidae
25. Numenius phaeopus
Gajahan Penggala
√
√
26. Limosa lapponica
Biru Laut Ekor Blorok
√
√
27. Heteroscelus brevipes
Trinil Ekor Kelabu

√
28. Tringa tetanus
Trinil Kaki Merah
√
√
29. Tringa stagnatilis
Trinil Rawa

√
30. Tringa glareola
Trinil Semak
√
√
31. Tringa cinereus
Trinil Bedaran
√
√
32. Actitis  hypoleucos
Trinil Pantai
√
√
33. Calidris tenuirostris
Kedidi Besar

√
Laridae
34. Chlidonias hybridus
Dara Laut Kumis
√

Columbidae
35. Treron vernans
Punai Gading

√
36. Ducula rosacea
Pergam Katanjar

√
37. Streptopelia bitorquata
Dederuk Jawa
√

38. Streptopelia chinensis
Tekukur Biasa
√
√
39. Geopelia striata
Perkutut Jawa
√

Psittasidae
40. Cacatua sulphurea
Kakatua-kecil Jambul-kuning

√
Cuculidae
41. Cuculus saturates
Kangkok Ranting

√
Apodidae
42. Hydrochous gigas
Walet Raksasa
√

43. Collocalia maximus
Walet Sarang Hitam
√

44. Collocalia esculenta
Walet Sapi
√
√
45. Apus pacificus
Kapinis Laut  

√
46. Cypsiurus balasiensis
Walet Palem Asia
√

Alcedinidae
47. Halcyon chloris
Cekakak Sungai
√
√
48. Halcyon sancta
Cekakak Australia
√
√
Meropidae
49. Merops leschenaultia
Kirik Kirik Senja

√
Coraciidae
50. Eurystomus orientalis
Tiong Lampu Biasa

√
Hirundinidae
51. Hirundo rustica
Layang Layang Asia 
√
√
Hirundinidae
52. Hirundo tahitica
Layang Layang Batu
√

Pycnonotidae
53. Pycnonotus aurigaster
Cucak Kutilang
√

Oriolidae
54. Oriolus chinensis
Kepodang Kuduk Hitam

√
Artamidae
55. Artamus leucorynchus
Kekep Babi

√
Motacillidae
56. Anthus novaeseelandiae
Apung Tanah
√

Monarchidae
57. Hypothymis azurea
Kehicap Ranting

√
Nectariniidae
58. Cinnyris  jugularis
Burung Madu Sriganti
√
√
Zosteropidae
59. Zosterops chloris
Kacamata Laut
√
√
Ploceidae
60. Passer montanus
Gereja Erasia
√


Catatan: Ml: Masalembu dan Mk: Masakambing
animasi-bergerak-burung-kakatua-0112